Sebuah Kehidupan Dalam Kehidupanku

"Sebaik-baiknya manusia di dunia adalah yang bisa mensyukuri akan keberadaannya"

Saturday, November 19, 2005

Pokok – pokok kebajikan

Surat Al-Baqarah : 177
“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu adalah
1.Beriman kepada Alloh SWT, Hari kemudian, Malaikat-malaikat, Kitab-kitab, Nabi-nabi.
2.Memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir ( orang-orang yang memerlukan pertolongan ), dan orang-orang yang meminta-minta.
3.Memerdekakan hamba sahaya.
4.Mendirikan sholat dan menunaikan zakat.
5.Orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji.
6.Orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan.
Mereka itulah orang-orang yang benar ( imannya ) dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa."

Bisakah aku memperjuangkan untuk diriku yang dhoif ini? Berbuat kebajikan di atas bumi ini. Untuk mencapai akhirat yang sesungguhnya.
Wallahua'lam

Saturday, October 08, 2005

...:>>Harapan pada Ramadhan kali ini<<:..

*** Butir-butir tasbih terus menggelinding...

Suara-suara menyebut nama-Mu mengalun syahdu...

Diiringi deraian air mata penyesalan yang tak berkesudahan...

Taubatku, Yaa Robb...

Dzikirku, Yaa Robb...***

Alunan surat cinta dari-Mu terdengar di telingaku...

Lantunan dari bibir-bibir pemuja-Mu, Hamba-Mu...

A'udzubillahiminasy syaitonnirrojiem...

Bismillahirrahmannirrahiem....

Huruf demi huruf bersambung mengalun...

Harokat demi harokat memperjelas alunannya...

Betapa diri ini mencintai-Mu...

Betapa sudah beribu kata telah tersampaikan...

Apakah layak diri ini menjadi hamba-Mu yang setia?

Sementara kadang hamba melupakan kasih-Mu..

Hamba kadang lupa akan karunia yang Engkau berikan.

Yaa Alloh, dibulan yang suci ini..

Ijinkan hamba bersimpuh...

Memohon ampunan atas segala dosa yang hamba perbuat..

Kabulkan permohonan hamba...

Kumpulkanlah hamba bersama orang-orang yang beruntung...

Amien..Amien...Amien....Yaa Robbal'alamien...

Thursday, September 22, 2005

....:>>>PASANGAN HIDUP<<<:....

Pasangan Hidup....
Mereka yg tdk menyukainya, menyebutnya
tanggung jawab.
Mereka yg bermain dengannya, menyebutnya
sebuah permainan.
Mereka yg tdk memilikinya, menyebutnya sebuah
impian.
Mereka yg mencintai, menyebutnya rencana
Tuhan.

Kadang Tuhan yg mengetahui yg terbaik, akan
memberi kesusahan untuk menguji kita.....
Kadang Ia pun melukai hati, supaya hikmatNya
bisa tertanam lebih dalam

Jika kita kehilangan cinta, maka pasti ada alasan
dibaliknya.
Alasan yang kadang sulit untuk dimengerti, namun
kita tetap harus percaya bahwa ketika Ia
mengambil sesuatu, Ia telah siap memberi yang
lebih baik.

Mengapa menunggu?
Karena walaupun kita ingin mengambil keputusan,
kita tidak ingin tergesa-gesa.
Karena walaupun kita ingin segera menemukan
orang yang kita cintai, kita tidak ingin kehilangan
jati diri kita dalam proses pencarian itu.

Jika ingin berlari, belajarlah berjalan dahulu,
Jika ingin berenang, belajarlah mengapung dahulu.
Jika ingin dicintai, belajarlah mencintai dahulu.

Pada akhirnya, lebih baik menunggu orang yang
kita inginkan, ketimbang memilih apa yang ada.
Tetap lebih baik menunggu orang yang kita cintai,
ketimbang memuaskan diri dengan apa yang ada.
Tetap lebih baik menunggu orang yang tepat,
karena hidup ini terlampau singkat untuk
dilewatkan bersama pilihan yang salah, karena
menunggu mempunyai tujuan yang mulia dan
misterius.....

Perlu kau ketahui bahwa
Bunga tidak mekar dalam waktu semalam,
Kota Roma tidak dibangun dalam sehari,
Kehidupan dirajut dalam rahim selama 9 bulan,
Cinta yang sejati terus bertumbuh selama
kehidupan....

Kebanyakan hal yang indah dalam hidup
memerlukan waktu yang lama,
Dan penantian kita tidaklah sia-sia.......

Walaupun menunggu membutuhkan banyak hal-
iman, keberanian, dan pengharapan penantian
menjanjikan 1 hal yang tidak dapat seorangpun
bayangkan.

Pada akhirnya Tuhan dalam segala hikmatNya,
meminta kita menunggu, karena alasan yang
penting...

Sunday, August 28, 2005

Balas budi untuk pemberi suasana kesejukan

Tahukah kita, disaat kita berdiri di terik mentari yang amat menyengat, dimana tempat yang sejuk untuk kita berteduh selain di dalam ruangan?
Yach, di bawah pohon yang rindang daunnya. Itulah tempat yang paling dicari orang untuk berteduh. Kemudian, pernah kita terpikir untuk merawat pohon yang telah memberi kita keteduhan, angin yang sejuk disaat terik mentari tadi? Tentunya, sedikit sekali yang mengingat akan jasa pohon-pohon yang telah memberi keteduhan disaat kepanasan tadi.

Di kantor tempat saya bekerja, ada seorang tukang parkir yang dengan penuh kesetiaan merawat pohon yang telah melindungi dia dari pengaruh langsung panas matahari. Karena kantor saya adalah kantor jasa yang tidak menyediakan ruang khusus untuk tempat parkir pengunjung seperti di kantor-kantor lainnya, jadi otomatis tukang parkir selalu berpanas-panas ria di siang yang terik. Setiap istirahat sholat, Bapak itu selalu menyempatkan membawa plastik bekas untuk mengambil air dari kran tempat wudlu mushola, yang terletak di lantai dua. Turun ke bawah sambil menjinjing bungkusan plastik berisi air tadi, lalu beliau siramkan air tersebut ke tanah, tempat pohon itu tumbuh. Selalu begitu setiap hari, baik siang ataupun pas beliau tugas sore, beliau sempatkan mengambil air untuk menyirami pohon tersebut.

Pertama kali melihat kelakuan beliau, saya kurang paham. “Untuk apa Bapak selalu membawa air dalam tas plastik ini?”batin saya mulai bertanya. Bahkan saya pernah terpikirkan, bahwa Bapak itu kurang kerjaan saja membawa bungkusan air dalam plastik. Tapi lama-lama pikiran saya mulai terbuka dan menemukan sebuah jawaban. Mungkin itulah sebagian wujud syukur beliau pada Allah SWT dan juga cara penyampaian rasa terima kasih beliau untuk pohon yang telah memberi tempat untuknya berteduh setiap siang terik matahari.
Subhannallah, sungguh perlakuan yang mulia sekali. Apa beratnya membawa seplastik air bersih untuk menyiram sebatang pohon, tempat biasa kita berteduh. Pohon juga Makluk Allah SWT yang wajib kita rawat dan kita lestarikan. Bagaimana dunia kalau tak ada pohon-pohon? Tentu akan terasa panas sekali, matahari membakar tubuh-tubuh kita.
Tidak usah kita berpikiran muluk untuk merawat banyak pohon seperti di Hutan dan Gunung. Cobalah untuk pertama kali belajar merawat dengan setia untuk mewujudkan rasa syukur kita pada Allah SWT dengan cara menyiram pohon-pohon yang ada disekeliling kita, di rumah kita, di kantor kita. Allah SWT telah menciptakan dan memberikan pohon yang tinggi, lebat daunnya, selain sebagai tempat rizki kita dengan buah-buah yang matang dan bunga-bunga yang indah. Juga media untuk kita agar tidak terkena sinar matahari langsung.

Tahukah kita? Bahwa sesungguhnya tanaman-tanaman yang ada di dunia ini juga selalu berdzikir kepada Allah SWT diiringi tiupan angin yang sepoi-sepoi. Subhannallah Walhamdulillah Walaailahailallahu Allahu Akbar.

Purwokerto, 29 Agustus 2005
***Untuk seseorang yang selalu mengajarkan saya hikmah kehidupan. Jazakallah kairon katsiron.

~Doddy~
Doddy_1377@yahoo.com

Saturday, August 27, 2005

Saya ingin, sekali berarti. Setelah itu, MATI.

Beberapa hari yang lalu, di salah satu stasiun televisi swasta menayangkan sebuah acara penganugerahan kepada insan-insan seni, terutama pertelevisian. Diantara penghargaan- penghargaan yang diberikan, ada satu yang sangat menyentuh di diri saya pribadi, yaitu saat seorang aktor yang juga sutradara senior meraih penghargaan dalam kategori Lifetime Achievement SCTV Award 2005.

Dialah Bapak Deddy Mizwar, Sutradara, Produser, Aktor kawakan yang dikenal aktif memproduksi film-film yang bernuansa dakwah dan juga pesan moral yang ringan namun sangat menyentu. Dan melihat tayangan itu, yang menyentuh bagi saya adalah saat beliau dinobatkan naik ke atas panggung dan berbicara di atas podium. Salah satu kalimat yang beliau ucapkan itulah yang menyentuh sanubari saya. Kata-kata itulah adalah ….saya ingin, sekali berarti. Kemudian setelah itu mati. Masya Allah, sebuah ungkapan yang sederhana tapi bermakna dalam. Disaat diantara kita berlomba-lomba meraih kekayaan yang sebanyak-banyaknya, yang kadang apakah itu bisa berarti apa tidak. Halal atau haram. Hak atau batil. Ternyata sosok Deddy Mizwar hanya butuh satu, tapi yang berarti di dunia dan juga bagi akhiratnya kelak.
Sebagaimana kita tahu, beberapa suguhan yang disajikan oleh Bapak Deddy Mizwar adalah sesuatu yang selalu bernafaskan islam. Sinetron Lorong Waktu, Pengembara, Mat Angin yang melejit pada saat Bulan Ramadhan tahun lalu. Ditambah film “Kiamat Sudah Dekat”, yang mengingatkan para penontonnya agar selalu ingat tentang akan datangnya hari kiamat, hari berakhirnya jaman.

….Saya ingin, sekali berarti. Setelah itu, mati.
Sebuah cita-cita yang mulia dalam menjalani hidup ini. Sekali berarti, yach hidup yang sekali ini saja harusnya kita berusaha menjadikan hidup yang berarti. Berarti dalam hidup kita, tentunya juga harus berarti bagi orang-orang disekitar kita. Dengan selalu ber-amar ma’ruf nahi mungkar.
Dijaman yang serba kompleks ini, susah untuk mewujudkan cita-cita itu. Tapi susah bukanlah tidak bisa sama sekali. Tinggal bagaimana kemauan dan juga niat kita. Kalau kita sudah mau untuk berubah ke yang lebih baik. Berusahalah untuk mencapai itu. Karena Allah SWT tak akan merubah suatu kaum, kalau kaum tersebut tidak mau merubah dirinya sendiri. Sungguh tak ada yang tak mungkin di dunia ini. Semuanya mungkin saja kita raih, asalkan ada niat dan kemauan kita.

…saya ingin, sekali berarti. Setelah itu,mati.
Tiap hari kita bisa jadi berarti bagi diri kita sendiri dan atau bagi orang lain, itu adalah tabungan kita untuk akhirat nanti. Sekali berarti setelah itu mati, yang dimaksud bukan setelah kita menjadi berarti lalu mati dengan cara membunuh diri kita sendiri. Jangan begitu dan bukan begitu. Tapi itu adalah slogan kita, sebagai semangat kita menjalani hari-hari kita di dunia, dengan selalu bercita-cita menjadikan hari-hari yang kita lewati haruslah berarti.
Kalaupun setelah kita menjalani hidup ini, dan setelah hari yang saat kita lalui, berarti bagi kita dan atau orang lain. Tiba-tiba Malaikat Allah SWT menjemput kita, mengambil nyawa kita satu-satunya, kita bersyukur telah menjadi orang yang berarti. Alhamdulillah, kita bisa melewati setiap hari-hari kita dengan cita-cita untuk selalu berarti.

…saya ingin, sekali berarti. Setelah itu,mati.
Memang sulit kita wujudkan. Tapi berusahalah. Karena berusaha adalah jalan menuju pencapaian cita-cita. Manusia hanya bisa berusaha, Allah SWT penentunya.
Bismillahirrahmannirrahiem…

Monday, August 22, 2005

Sholat Bisa Bikin Kaya?

Oleh: M. Luthfi Thomafi
Sumber : www.pesantrenvirtual.com

DALAM al-Qur'an dan Hadits, disebutkan bahwasanya salat adalah satu-satunya ibadah yang tidak bisa ditinggalkan oleh seorang muslim dalam keadaan apapun dan di manapun. Sekalipun ia tak bisa melakukan apa-apa, salat itu tetap wajib, sampai kapan pun, bahkan hingga sampai seseorang hanya mampu melakukannya dengan isyarat-isyarat saja. Kalau seorang muslim sudah tak mampu untuk melakukan walaupun dengan isyarat, atau ia sama sekali sudah tak bergerak, dan tak bernafas, alias sudah meninggal dunia, orang-orang muslim yang ada di sekitarnya, atau di sekelilingnya, mendapatkan kewajiban dari Allah swt untuk men-salati orang yang sudah meninggal itu.

Diceritakan dalam al-Qur'an, nanti di hari kiamat ada orang Islam yang dimasukkan di neraka Saqar. Ditanya sama kawan-kawannya yang masuk surga, "Mق salaka-kum fَ Saqar", "apa yang menyebabkan kamu masuk di neraka Saqar?"; "Qalu lam naku minal-mushallin", "Mereka menjawab, kami tidak pernah melakukan salat" (Surat al-Mudatstsir, ayat 42-43).

Tapi, ada beberapa intelektual muslim yang menganggap bahwanya salat itu hanya sebuah wasilah, metode dan semacamnya. Para intelektual itu mengatakan bahwa "jika dulu salat adalah tiang agama, maka kini kita telah memasuki era modern dimana rasio menghegemoni, diganti menjadi akal adalah tiang agama." Mengenai fenomena ini, saya pernah ditanya seorang kawan, di Mesir, "Mengapa sih para intelektual kok bisa berpendapat seperti itu?"


***

Ada kesalah pahaman yang terjadi di antara orang-orang Islam sendiri ketika mennerjemahkan Islam. Islam, dalam hal ini salat, diartikan secara material-total. Kita sepertinya tak akan pernah sepakat dengan hal ini. Sebab memang, sebagaimana kita bisa dapatkan dalam al-Qur'an, al-Qur'an bermaksud membebaskan orang-orang dari segalanya, namun yang paling utama dalam pembebasan yang dilakukan al-Qur"an adalah "Yukhriju-hum Minadz-dzulumقt ilan-nr", yakni "mengantarkan dan membebaskan kalian (manusia) dari zaman yang penuh kegelapan ke zaman yang terang benderang" [Lihat, misalnya, surat al-Baqarah 257]. Jadi, risalah utama yang dibawa Nabi Muhammad saw adalah ini. Lantas, pembebasan ini tidak serta merta kita pahami secara material-rasional. Sebab, jika kita memahami secara material-rasional, maka hasilnya akan menjadi lain.

Apa yang dimaksud dengan "kegelapan" pada ayat di atas, tentu bukan kegelapan dalam arti material; gelap tanpa lampu nan sunyi, remang-remang, tidak jelas mana pohon dan mana batu. Bukan itu. Demikian pula dengan makna "zaman yang penuh dengan cahaya". Kalimat tersebut tidak bisa diartikan dengan kemajuan material yang gemerlap kelap-kelip gemerlapnya lampu-lampu di berbagai kota sekarang ini. Gemerlapnya kota Semarang, Solo, dan lain sebagainya, itu hanya gemerlap material. Kalau kegelapan dan kegemerlapan yang dimaksud oleh al-Quran, atau yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw hanya bermakna material, maka hal tersebut tidak ada bedanya dengan "tukang ojek" atau sopir taksi. Tukang ojek yang ada di Indonesia, sebagaimana kita ketahui, menghantarkan kita dari tempat yang gelap—bisa pojokan jalan, ujung gang, terminal, dan lain sebagainya—, menuju rumah kita yang terang dengan lampu-lampu modern.

Lalu, bagaimana gelap dan terang yang dimaksud dalam al-Qur'an?


***

Tugas yang ada, yang diemban Nabi Muhammad saw, jauh lebih besar dari itu semua. Zaman yang terang benderang secara material tentu tidak menjamin adanya ketenangan batin dan nurani manusia. Demikian pula halnya dengan kegelapan material juga tidak menjamin ketenangan batin dan nurani. Bahkan kebanyakan maksiat justru dilakukan di kegelapan dan keremangan. Gelap atau terang secara material, atau nilai materialisme itu sendiri, sangat tidak menjamin seseorang berlaku baik. Itu sama artinya jika kita menterjemahkan salat, dan Islam, secara material.


***

Umat Islam, di kebanyakan negeri berkembang, rata-rata memiliki mental sebagai "orang yang baru saja merdeka". Sehingga, sangat wajar jika umat Islam silau dengan kemewahan material yang ada di negeri maju. Akhirnya, harus kita akui bahwa diri kita memang sering terjebak oleh materialisme. Ketika kita menganggap bahwa kemerdekaan materialisme adalah segala-galanya, maka di situlah kita telah lupa diri bahwa ada "hal lain" yang tidak tersentuh dan tidak ada dalam dunia materialisme. "Hal lain" itu tidak lain kecuali Allah!!!

Semua ini kalau kembali kepada Allah pasti selesai. Dan, untuk menuju 'hal lain' itu, hanya ditempuh melalui interaksi-interaksi spiritual yang tak terjangkau oleh akal.


***

Sebenarnya, yang menjebak kita adalah sesuatu yang kasat mata. Kita terlalu cuek, sehingga apa yang tidak kasat mata dianggap liar. Padahal, sesuatu yang tidak kasat mata itu belum tentu tidak ada. Ketika Rabiah al-Adawiyah –tokoh sufi asal Basrah, kota di Irak— sedang stress berat, pembantu kerajaan berkata kepadanya, "Berzikirlah kepada Allah". Sontak Rabiah bilang, "Allah? Mana Allah (tunjukkan kepadaku)?". Pembantu itu tentu terdiam. Rabiah saat itu belum sadar kalau dirinya keliru, dengan mengharapkan kehadiran Allah swt hanya dengan bermodalkan panca indera.

Sesuatu yang tidak kasat mata itu bisa diraih dengan mengoptimalkan kerjasama antara akal dengan indera yang lain. Angin, mimpi, adalah sesuatu yang tidak bisa dilihat. Atau setrum listrik. Atau, rasa cinta kita kepada seseorang yang terkadang membuat kita jadi seperti orang gila. Tidak tahu mana dan bagaimana cinta itu, tidak tahu pesona apa yang ada pada dirinya, yang jelas kita merindukan dirinya, dan selalu ingin bertemu. Ini baru berbicara soal angin, mimpi, cinta, dan kita belum kalau dalam konteks "hal lain" tadi.

Kalau saja kita diberi kemampuan oleh Allah untuk melihat secara kasat mata bagaimana langit, bumi, gunung-gunung bertasbih kepada Allah swt. "Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun". (QS 17:44).

Apakah kita hendak mengatakan bahwa "tasbih"-nya langit, bumi dan gunung itu sebagai sesuatu yang "majazi" alias metaforis belaka?

Kita, manusia, mengatakan demikian, tidak lain, karena kita –dengan akal kita—tidak mampu menggapai "hal lain" itu. Kita juga tidak mampu menggapai hal-hal yg Dia kehendaki, yang kadang-kadang berupa hidayah, petunjuk, dan lain sebagainya. Sehingga, hanya kata "majazi" atau metaforisme sajalah yang menutup indera nurani kita, setelah mata, telinga dan hidung kita tidak mampu untuk menggapainya.

Mari kita perhatikan dengan ayat beriku ini:

"Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagaimana jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan". (QS. 27:88)


***

Sangat berat memang untuk meyakini sesuatu dimana diri kita sendiri masih dalam keadaan ragu-ragu. Bahkan ketika keyakinan itu ada, kita senantiasa berharap agar dapat mengokohkan keyakinan itu dalam petunjuk Allah swt yang kasat mata. Bahkan hal ini pernah terpikirkan dalam benak Nabi Ibrahim as, yang akhirnya, walaupun beliau sendiri karena sudah sangat dekat dengan "hal lain" itu, beliau masih saja bertanya ;

"Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati." "Allah berfirman: "Belum yakinkah kamu?" Ibrahim menjawab: "Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku)". Allah berfirman: (Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu." (Allah berfirman): "Lalu letakkan diatas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera." Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana". (QS 2:260)


***

Mari kita renungkan, kalau manusia sekaliber Nabi Ibrahim as demikian, maka, tidak perlu heran jika kita melihat orang-orang Islam, khususnya para intelektualnya, dan juga orang-orang non-muslim, tetap sulit menerima ajaran agama Islam secara spiritual. Ini dikarenakan mereka mengharapkan material, suatu hal yang dalam ajaran Islam teramat sepele.

Wallahu a"lam bis-showقb

Saturday, August 20, 2005

When I Feel Blank...

Kalo sehari-hari hanya dibumbui teori-teori, kapan kita berkembangnya. Tentu akan makan waktu yang lama sekali. Apalagi bagi aku yang sudah lama ingin menuliskan sesuatu dalam sebuah buku. Suatu hal yang sangat membosankan sekali, ternyata. Beberapa copy-an artikel udah aku kumpulkan dari berbagai sumber. Tentunya artikel tentang kepenulisan, tapi diri ini masih aja stuck dengan semua ini. Blank!
Sesekali menuliskan beberapa bait kata menjadi kalimat yang tersusun. Aku harapkan bias menjadi sebuah cerita yang menarik bagi diriku sendiri khususnya. Syukur-syukur ada temen yang mau menilai ataupun mengkritik tajam tulisanku. Pengen sekali dapet sebuah kritikan, trus aku perbaiki dengan lebih baik. Bisa ngga,ya??
Kali ini, aku pun masih tetap saja terpekur di depan kompie. Menatap terus tanpa henti, tapi tak ada yang aku tuliskan. Kenapa ?? Jalan,donk!!
Beberapa sudah aku hasilkan, tapi kok rasanya masih kurang aja. Kenapa,siy? Apanya yang kurang,coba? Bingung,kan? Aku aja bingung, apalagi kalian. Pliss,dech. Tolongin aku,napa? Agar aku bisa seperti kalian semua yang sudah jago-jago dan mahir-mahir dalam menyatukan tangan dan otak. Menurut Pak Laksana-penulis Novel “Cinta Silver”-kalo ingin menjadi penulis, belajarlah dari tulisan buruk. Sebab dari tulisan buruk itulah, yang baik akan lahir. Jangan pernah berpikir untuk membuat tulisan yang terbaik, kalo belum bisa mencoba menulis yang buruk.
Nah, itu tau! Kok, aku masih juga stuck gini ya.
Ada juga tambahan pesen, gini. Kalo mau jadi penulis, mulailah dari menjadi pembaca. Tapi emang siy, kadang-kadang ego kita yang diandalkan. Takut kalo udah membaca karya orang, trus kita terobsesi untuk menjadi seperti yang tertulis di karya orang tersebut. Jadi syndrome lagi!
Yach, So What Gitu Loh!
Ingin menulis! Jangan cuma berharap dari ingin, tapi Do! Do! Dan Do !
Kerjakan! Lakukan! Realisasikan! Dan kau akan menjadi yang kau inginkan!
Wish Me to Do It. Help Me when I Feel Down…
Pliissss….